A. LATAR BELAKANG Pendidikan adalah proses fundamental dalam membentuk karakter dan kompetensi generasi penerus bangsa. Dalam konteks ini, filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara menjadi landasan penting. Filosofi ini menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga upaya pembentukan budi pekerti serta pemerdekaan pikiran dan jiwa peserta didik. Ki Hadjar Dewantara memperkenalkan konsep "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani," yang menggambarkan peran pendidik dalam menjadi teladan, penyemangat, dan pendorong bagi peserta didik untuk mandiri dan kreatif. Sejalan dengan filosofi ini, program Guru Penggerak hadir sebagai inisiatif untuk memperkuat peran guru sebagai agen perubahan di sekolah dan masyarakat. Guru Penggerak diharapkan tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga menjadi inspirator dan inovator yang mendorong terciptanya lingkungan belajar yang ink...
Pada pertemuan kita yang tanpa sengaja, Kamu dengan percaya diri menyapa dan tanpa berpikir panjang bertanya kabar. "Bagaimana kabarmu?" kau bertanya "Cukup sehat untuk terlihat baik baik saja" kataku "Lalu bagaimana kabarmu?" aku balik bertanya. Yang kutau kau pasti jauh lebih baik. Untuk beberapa waktu kau terdiam Mengabaikan pertanyaanku Menatap lekat bening mataku Kuyakin saat itu cahayanya tepat hanya memantulkan bayangan dari matamu. aku tersenyum lalu berkata "Jangan merasa bersalah untuk merasa baik-baik saja" Kau masih menatap mataku, dan jauh dari kata tersenyum. "Dia merawatmu dengan sangat baik" lanjutku. Setidaknya aku masih cukup waras untuk tidak memukul pundakmu saat itu. Seperti yang biasa aku lakukan Setiap kali aku merasa salah tingkah karna tatapanmu yang terlalu dalam. Kau senang sekali menggodaku seperti itu Aku terlihat menggemaskan saat aku salah tingkah katamu. Namun kala itu, bukan sepatah kata yang kau ...
Pada akhir gelap yang sendirian Nyala lilin serupa cahaya penyelamat Aku diam diam rindu dan begitu terang terangan inginkan temu. Namun untuk kesekian kali Nalar kembali sadar di sepertiga sepi Bahwa tepat dipenghujung hujan lalu, kaupun mengujungkan langkah untuk tak lagi menujuku. Cerita kita yang kukira masih ditengah kisah, Yang ternyata kau sematkan sebuah kata tamat. Saat dengan tanpa beban kau ucap kata pisah. Aku terpukul dengan patah yang teramat. Sisa hujan dibalik jendela Seolah membercandaiku untuk Merasa pekatnya sepi yang kedinginan Sepi yang jelas memperdengarkan degub yang mendetakkan penyesalan Entah penyesalan karna membuatmu terluka hingga pergi Atau penyesalan karna membuatku berduka saat kau melangkah pergi. Dan pada titik yang kesekian Kamu masih menjadi segala barisan yang aku tuliskan. Meski aku sudah menjadi buku usang yang enggan kau baca.
Komentar
Posting Komentar